Adapunakhlak manusia terhadap alam yang wajib dilaksanakan adalah sebagai berikut. 1. Memerhatikan dan merenungkan penciptaan alam. Allah berfirman : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Duahal yang dimaksud adalah sifat khauf dan raja’. dengan sifat khauf, seorang hamba akan senantiasa merasa takut untuk berbuat maksiat kepada-nya dan raja’ merupakan sifat yang senantiasa mengharap rahmat dan ampunan-Nya. Dengan memelihara kedua sifat ini, maka terbuktilah bahwa seorang hamba telah berakhlak kepada Allah. kearah kedewasaan.12 Pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dan anak-anak sebagai suatu aturan yang diyakini akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan manusia apabila aturan tersebut dijalankan dengan baik. Akhlak yang bersumber pada agama pada dasarnya mengandung bimbingan bagi manusia dalam menjalankan hubungannya kepada Belumlagi akhlak, moral, dan etika yang guru contohkan. Pengorbanan dan kesabaran guru telah membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga momen hari guru nasional 25 November 2018 kali ini bisa membawa spirit baru agar problem yang dihadapi (kesejahteraan, pengangkatan CPNS, dll) bisa segera teratasi. Perilakuhusnuzan termasuk akhlak terpuji karena akan mendatangkan manfaat. Sedangkan perilaku suuzan termasuk akhlak tercela karena akan mendatangkan kerugian. syukur adalah berterima kasih kepada Allah SWT dan pengakuan yang tulus atas nikmat dan karunia-Nya, melalui ucapan, sikap, dan perbuatan. Nikmat karunia Allah SWT sangat banyak QS Al-Mu’minun Ayat 96. اِدۡفَعۡ بِالَّتِىۡ هِىَ اَحۡسَنُ السَّيِّئَةَ‌ ؕ نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا يَصِفُوۡنَ. Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan (cara) yang lebih baik, Kami Pendidikanadalah menanamkan akhlak yang baik dalam jiwa angkatan/generasi muda dan memberikan siraman air petunjuk dan nasehat, sehingga menjadi suatu sifat dalam jiwa yang kemudian membuahkan sifat utama dan baik serta cinta bekerja untuk berbakti kepada tanah air. Perbuatan takabbur atau menjunjung diri akan membawa akibat yang sangat FBJSq6b. SETIAP muslim diperintahkan oleh Allah SWT untuk melakukan akhlak baik. Akhlak baik tersebut tentunya yang sesuai dengan hukum syara. Sebagaimana dari Abdullah bin Amr sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” Mutafaq alaih. Seorang muslim harus melaksanakan akhlak baik, bahkan hingga mendarah daging pada dirinya. Semua itu bukan karena agar mendapat keuntungan materi, tapi hanya karena Allah SWT semata. Berikut lima akhlak baik di antaranya adalah 1. Akhlak Baik Memiliki Rasa Malu Al-Haya Bila dilihat hari ini, banyak sekali seorang muslim yang melupakan rasa malu. Bahkan tak jarang tidak terbersit rasa malu pada dirinya sedikit pun. Padahal malu adalah sebagian dari iman. Hal itu diriwayatkan dari Ibnu Umar ra., Rasulullah ﷺ melewati lelaki dari kaum Anshar. Laki-laki itu sedang menasihati anaknya tentang malu, maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Biarkanlah dia, sesungguhnya malu itu bagian dari iman.” Mutafaq alaih. Ada pun diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda “Iman mempunyai lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah la ilaha ilallah. Sedangkan yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan. Dan malu adalah satu cabang dari keimanan.” Mutafaq alaih. BACA JUGA Akhlak yang Baik, Ada dalam 3 Hal Ini 2. Akhlak Baik Bersikap Dewasa, Tenang dan Tidak Tergesa-gesa Ilustrasi Sikap Tenang dan Baik Foto Unsplash Sebagai seorang muslim kita perlu untuk melakukan akhlak baik yang satu ini. Bersikap dewasa sangat diperlukan untuk bisa lebih adil dalam bertindak. Sikap tenang dan tergesa-gesa juga tak kalah penting, karena ini sangat berpengaruh pula pada aktivitas kita sehari-hari. Sebagai mana HR. Muslim yang berbunyi, “Engkau mempunyai dua perkara yang dicintai oleh Allah yaitu bersikap dewasa, tenang dan tidak tergesa-gesa.” Maka lakukanlah hal-hal itu, karena Allah mencintai perkara-perkara tersebut. Allah pun mencintai sikap lemah lembut seperti yang tertera dalam riwayat dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah itu lemah lembut, mencintai kelembutan dalam segala perkara.” Mutafaq Alaih. BACA JUGA Memperbaiki Akhlak, Bagaimana? 3. Akhlak Baik Jujur Orang yang jujur adalah ia yang berkata kebenaran. Allah pun memerintahkan kita untuk berkata jujur dan bersama dengan orang orang yang jujur. Hal ini tercantum dalam QS. At-Taubah 119 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” Tentu seorang muslim yang jujur dan benar imannya itu jauh lebih baik dari pada seorang muslim yang dusta. Seorang muslim pun harus mengetahui bahwa jujur mengantarkan kita pada kebaikan dan insyaAllah mengantarkan seorang hamba ke surga-Nya. Semua perkataan seorang muslim yang jujur pun akan di catat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. 4. Akhlak Baik Mengecek Kebenaran yang Akan Disampaikan dan Cermat dalam Menyampaikan Informasi Dua Pria Sedang Berbincang Foto Unsplash Dalam Islam pun seorang muslim diajarkan untuk tidak mengikuti hal-hal yang kita tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut. Hal itu karena bila seorang tidak mengetahui faktanya, khawatir akan ada kesalahpahaman. Maka perlu untuk mengecek dahulu segala informasi sebelum mengikuti hal tersebut dan menyampaikannya ke luar. Karena apa yang diucapkan oleh setiap muslim akan dicatat oleh malaikat, yaitu malaikat selalu mengawasi kita kapan pun dan di mana pun. Rasulullah ﷺ juga bersabda “Seseorang layak dikatakan pendusta jika ia mengatakan setiap perkara yang didengarnya.” HR. Muslim. Ini menunjukkan bahwa setiap muslim hendaknya lebih memperhatikan lagi apa yang hendak diucapkan, jangan sampai malah mengantarkan pada hal yang tidak baik. BACA JUGA Akhlaknya Sih Baik, tapi Tidak Shalat 5. Akhlak Baik Bertutur Kata dengan Baik Dua Orang Berbincang Saat Musim Dingin Foto Unsplash Bertutur kata yang baik juga merupakan akhlak baik yang jangan sampai kita lewatkan. Bahkan perkataan yang baik itu sama seperti shadaqah. Sebagai mana dari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah ﷺ bersabda, “Perkataan yang baik adalah shadaqah.” Mutafaq alaih. Sebetulnya masih banyak lagi akhlak baik yang diajarkan oleh Islam. Yaitu seperti menampakkan wajah berseri, diam kecuali dalam kebaikan, memenuhi janji, berbaik sangka dan akhlak baik lainnya. Mudah-mudahan kita sebagai seorang muslim dapat melaksanakannya dengan baik dan karena Allah semata. Karena itu adalah perintah dari-Nya, tentunya sebagai sarana untuk membagikan dan juga membiasakannya. [] SUMBER Buku Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah dari Judul Asli Min Muqawimat Nafsiyah Islamiyah Penerjemah, Yasin 2004 Ayat alquran tentang perkataan yang baik – Agama islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga lisan dengan perkataan-perkataan yang baik dan mulia. Setiap mukmin dituntut untuk selalu menjaga dirinya dari segala keburukan, baik dalam bentuk perbuatan maupun perkataan. Termasuk menjaga lisan dari ucapan tidak baik adalah tidak mengeluarkan perkataan yang menyakiti, menghina, mengolok-olok, mencela, berkata kotor, mengumpat, dan segala bentuk dosa lisan lainnya. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin bukanlah pengumpat dan yang suka mengutuk, yang keji dan yang kotor HR. Bukhari. Sebagaimana perintah untuk beretika dalam berperilaku, menjaga etika dalam berucap sangat penting untuk diperhatikan. Karena sesungguhnya ucapan yang keluar dari lisan seseorang merupakan cerminan dari isi hatinya. Hati yang bersih akan senantiasa melahirkan perkataan yang bersih juga. Sebaliknya, hati yang kotor akan selalu melahirkan perkataan yang kotor pula. Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah bahwa baik buruknya kondisi hati akan membawa pengaruh bagi seluruh anggota tubuh yang lain, termasuk dalam hal ini adalah lisan. Dengan mengucapkan kata-kata yang baik, seseorang berarti telah bersedekah kepada orang lain dalam bentuk perkataan, yaitu orang lain memperoleh manfaat dari ucapannya itu. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidak ada sedekah yang paling dicintai oleh Allah selain perkataan yang HR. Baihaqi. Sedangkan orang yang tidak mampu menjaga lisannya dari kata-kata yang buruk, maka keimanannya patut dipertanyakan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau HR. Bukhari dan Muslim. Baca juga Kata mutiara islami tentang berkata jujur Kumpulan Dalil Ayat Alquran Tentang Perkataan yang Baik Kebaikan seorang muslim salah satunya tercermin dari lisannya yang senantiasa mengeluarkan perkataan-perkataan baik. Berikut ini beberapa ayat alquran tentang perkataan baik yang sangat penting untuk diketahui bagi setiap muslim, bahwa Allah mendorong hamba-Nya untuk senantiasa menjaga lisannya dengan ucapan yang baik dan bermanfaat. Ayat tentang perkataan yang baik 1 وَإِذْ Ø£ÙŽØÙŽØ°Ù’نَا مِيØÙŽØ§Ù‚ÙŽ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلÙَا اللÙÙŽÙ‡ÙŽ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنÙَاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصÙَلَاةَ وَآتُوا الزÙَكَاةَ ØÙÙ…ÙÙŽ تَوَلÙَيْتُمْ إِلÙَا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, tegakkanlah shalat dan tunaikanlah Tetapi kemudian kamu berpaling mengingkari, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu masih menjadi pembangkang. – Al-Baqarah 83 Ayat tentang perkataan yang baik 2 وَلْيَØÙ’Ø´ÙŽ الÙَذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ ØÙŽÙ„ْفِهِمْ ذُرÙِيÙَةً ضِعَافًا ØÙŽØ§ÙÙÙˆØ§ عَلَيْهِمْ فَلْيَتÙَقُوا اللÙÙŽÙ‡ÙŽ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka merasa khawatir terhadap kesejahteraannya. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. – An-Nisa 9 Ayat tentang perkataan yang baik 3 أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللÙَهُ Ù…ÙŽØÙŽÙ„ًا كَلِمَةً ØÙŽÙŠÙِبَةً كَشَجَرَةٍ ØÙŽÙŠÙِبَةٍ أَصْلُهَا ØÙŽØ§Ø¨ÙØªÙŒ وَفَرْعُهَا فِي السÙَمَاءِ * تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلÙÙŽ حِينٍ بِإِذْنِ رَبÙِهَا وَيَضْرِبُ اللÙَهُ الْأَمْØÙŽØ§Ù„ÙŽ لِلنÙَاسِ لَعَلÙَهُمْ يَتَذَكÙَرُونَ * ÙˆÙŽÙ…ÙŽØÙŽÙ„ُ كَلِمَةٍ ØÙŽØ¨ÙÙŠØÙŽØ©Ù كَشَجَرَةٍ ØÙŽØ¨ÙÙŠØÙŽØ©Ù اجْتُØÙَتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ * يُØÙŽØ¨Ùِتُ اللÙَهُ الÙَذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الØÙَابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدÙُنْيَا وَفِي الْآØÙØ±ÙŽØ©Ù وَيُضِلÙُ اللÙَهُ الظÙَالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللÙَهُ مَا يَشَاءُ Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat suatu perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, 24 pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu atas izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. 25 Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, akar-akarnya telah dicabut dari permukaan bumi, tidak dapat tetap tegak sedikit pun. 26 Allah meneguhkan iman orang-orang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim. Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. 27 – Ibrahim 24-27 Ayat tentang perkataan yang baik 4 وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الÙَتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنÙÙŽ الشÙَيْØÙŽØ§Ù†ÙŽ ÙŠÙŽÙ†Ù’Ø²ÙŽØºÙ بَيْنَهُمْ إِنÙÙŽ الشÙَيْØÙŽØ§Ù†ÙŽ ÙƒÙŽØ§Ù†ÙŽ لِلْإِنْسَانِ عَدُوÙًا مُبِينًا Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik benar. Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. – Al-Isra 53 Ayat tentang perkataan yang baik 5 ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ…Ùَا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا Dan adapun orang yang beriman dan beramal kebaikan, maka baginya pahala terbaik sebagai balasan. Dan akan kami sampaikan dengan mudah perintah Kami kepadanya. – Al-Kahfi 88 Ayat tentang perkataan yang baik 6 اذْهَبْ أَنْتَ ÙˆÙŽØ£ÙŽØÙÙˆÙƒÙŽ Ø¨ÙØ¢ÙŠÙŽØ§ØªÙÙŠ وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي * اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنÙَهُ ØÙŽØºÙŽÙ‰ * فَقُولَا لَهُ قَوْلًا Ù„ÙŽÙŠÙِنًا لَعَلÙَهُ يَتَذَكÙَرُ أَوْ ÙŠÙŽØÙ’Ø´ÙŽÙ‰ Pergilah engkau dan juga saudaramu dengan membawa tanda-tanda kekuasaan-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku; 42 pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena sungguh dia benar-benar telah melampaui batas; 43 maka berbicaralah kamu berdua kepadanya Fir‘aun dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. 44 – Thaha 42-44 Ayat tentang perkataan yang baik 7 إِنÙÙŽ اللÙÙŽÙ‡ÙŽ يُدْØÙÙ„ُ الÙَذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصÙَالِحَاتِ جَنÙَاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلÙَوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ * وَهُدُوا إِلَى الØÙÙŽÙŠÙِبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاØÙ الْحَمِيدِ Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal kebajikan ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di sana mereka diberi perhiasan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka dari sutera. 23 Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan diberi petunjuk pula kepada jalan Allah yang terpuji. 24 – Al-Hajj 23-24 Ayat tentang perkataan yang baik 8 وَعِبَادُ الرÙَحْمَنِ الÙَذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا ØÙŽØ§ØÙŽØ¨ÙŽÙ‡ÙÙ…ُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu ialah orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan kata-kata yang menyakitkan, mereka mengucapkan “salam,”. – Al-Furqan 63 Ayat tentang perkataan yang baik 9 مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزÙَةَ فَلِلÙَهِ الْعِزÙَةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الØÙÙŽÙŠÙِبُ وَالْعَمَلُ الصÙَالِحُ يَرْفَعُهُ وَالÙَذِينَ يَمْكُرُونَ السÙÙŽÙŠÙِئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ Barangsiapa menginginkan kemuliaan, maka ketahuilah bahwa kemuliaan itu semuanya hanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan Dia akan mengangkat amal kebajikan. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan, mereka akan memperoleh azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur. – Fathir 10 Ayat tentang perkataan yang baik 10 وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمÙَنْ دَعَا إِلَى اللÙَهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنÙَنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ * وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السÙÙŽÙŠÙِئَةُ ادْفَعْ بِالÙَتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الÙَذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ ÙƒÙŽØ£ÙŽÙ†Ùَهُ وَلِيÙÙŒ حَمِيمٌ * وَمَا يُلَقÙَاهَا إِلÙَا الÙَذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقÙَاهَا إِلÙَا ذُو حَظÙٍ عَظِيمٍ * وَإِمÙَا يَنْزَغَنÙÙŽÙƒÙŽ مِنَ الشÙَيْØÙŽØ§Ù†Ù نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللÙَهِ إِنÙَهُ هُوَ السÙَمِيعُ الْعَلِيمُ Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal kebajikan dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim yang berserah diri” 33 Dan tidaklah sama antara kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan menjadi seperti teman setia. 34 Dan sifat-sifat yang baik itu tidak akan dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang bersabar dan tidak pula dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. 35 Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 36 – Fusshilat 33-36 Ayat tentang perkataan yang baik 11 ØÙŽØ§Ø¹ÙŽØ©ÙŒ وَقَوْلٌ مَعْرُوفٌ فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللÙÙŽÙ‡ÙŽ لَكَانَ ØÙŽÙŠÙ’رًا لَهُمْ Yang lebih baik bagi mereka adalah ketaatan kepada Allah dan bertutur kata yang baik. Sebab apabila perintah perang ditetapkan mereka tidak menyukainya. Padahal jika mereka benar-benar beriman kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. – Muhammad 21 Perkataan atau ucapan yang baik merefleksikan kebaikan iman seseorang. Semoga beberapa ayat alquran tentang perkataan baik di atas bisa menjadi nasehat diri untuk selalu menjaga lisan dari perkataan buruk dan tidak bermanfaat. ALLAH Subhanahu Wata’ala telah berfirman, “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” QS, Al-Ahzab, 33 21. Dan dalam firman-Nya yang lain, “Dan Kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” QS. Al-Anbiyaa, 21 107. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” HR. Al-Bazzaar. Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Ada dua watak yang keduanya tidak boleh berada dalam diri seorang mukmin yaitu, kikir dan akhlak yang buruk.” HR. Bukhari. Kikir dan akhlak yang buruk merupakan sifat yang sangat tercela. Maka, orang mukmin harus menjauhkan diri dari keduanya, karena kedua sifat tersebut adalah sifat buruk. Akhlak adalah tabiat, watak, harga diri dan agama. Akhlak ialah kesatriaan, kebiasaan, perangai. Hakikat akhlak adalah untuk menata dan mengatur perilaku manusia, dan gambaran batin seseorang, yang meliputi jiwa, sifat-sifat jiwa dan makna-makna khusus dari jiwa tersebut. Jadi akhlak adalah yang mencerminkan perbuatan lahir seseorang dan akhlak mempunyai sifat baik dan buruk. Maka pengertian akhlak adalah keadaan pada diri seorang yang ditampakkan dalam perbuatannya, baik atau buruk secara spontan tanpa melewati pikiran. Allah Swt. menetapkan akhlak untuk mengatur perilaku manusia, supaya mereka dapat bergaul dengan sesamanya dalam bentuk yang akan mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi mereka di dunia, dan juga keridhaan Allah Swt. di akhirat. Akhlak mulia bukanlah sekedar taktik yang bersifat sementara, melainkan suatu sikap yang terus menerus. Yang pertama-tama dituntut oleh akhlak adalah dibersihkannya diri dari segala macam keburukan yang melekat padanya, dan kemudian mendahulukan perbuatan memberi kepada sesama manusia daripada meminta, baik itu berkenaan dengan masalah-masalah maknawi maupun masalah-masalah materi. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, “Ada tiga perkara, barang siapa ketiganya berada dalam dirinya ia pasti mendapat pahala dan keimanan yang sempurna, yaitu akhlak yang baik yang disandangnya dalam kehidupan bermasyarakat; sifat wara’ berhati-hati yang mencegahnya dari hal-hal yang diharamkan Allah Swt. dan sifat penyantun yang membuatnya memaafkan kebodohan orang yang jahil terhadap dirinya.” HR. al-Bazzar melalui Anas Wara; adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat, terlebih lagi dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Al Hilmu , adalah sifat penyantun atau berlapang dada bila menghadapi orang-orang yang tidak mengerti. Yang dimaksud dengan Khuluqun ialah menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dalam bergaul dengan orang-orang. Barang siapa yang ingin mendapat pahala dan iman yang sempurna, hendaknya kita mengamalkan ketiga hal tersebut. Dari sini tampaklah bahwa akhlak merupakan sesuatu yang melekat dalam diri seseorang, bukan sesuatu yang tampak secara lahirnya, maka akhlak berhubungan dengan batin seorang, supaya akhlak itu diketahui oleh orang lain, maka harus ditunjukkan lewat perbuatan yang nyata, yaitu perilaku. Jadi perilaku adalah pengejawentahan dari akhlak seseorang. Untuk mengetahui akhlak seseorang, maka perlu melihat perilaku kesehariannya, karena perilaku keseharian seseorang adalah dalil, dan tanda dan bukti akhlak yang dimilikinya. Apabila perilaku kesehariannya baik maka, hal itu menunjukkan kebaikan akhlaknya, begitu juga sebaliknya apabila perilakunya buruk, maka akhlaknya pun buruk. Akhlak yang baik dalam kehidupan muslim secara umum dan dalam berkhidmat kepada Allah khususnya adalah tali keimanan yang kuat dan derajat keimanan yang tertinggi. Sebagaimana sabda Nabi Saw, “Orang-orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang akhlaknya paling mulia.” HR. Thobrani melalui Ibnu Umar Akhlak yang mulia adalah keharusan social bagi seluruh masyarakat. Karena barang siapa berakhlak mulia, maka dialah yang paling dicintai Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah, dan Dia mencintai akhlak yang mulia serta membenci akhlak yang rendah.” HR. Na’im melalui Ibnu Abbas Akhlak yang baik menjadikan seorang menjadi sebaik-baiknya manusia. Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian ialah orang yang paling baik akhlaknya.’ HR. Thabrani melalui Ibnu Umar Akhlak yang baik dapat mengangkat pelakunya ke dalam golongan orang-orang yang baik. Dalam hadits yang lain dinyatakan bahwa, “Orang-orang yang terpilih di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” HR. Bukhari dan Muslim. Hadits ini menjelaskan bahwa seseorang di nilai dari akhlaknya, apabila akhlaknya baik maka ia termasuk orang yang baik, dan apabila akhlaknya buruk, maka ia termasuk orang yang buruk. Akhlak yang baik adalah bagian dari ibadah, anugerah dan pemberian yang paling agung. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada amal yang bisa memberatkan timbangan seseorang di hari kiamat nanti melainkan akhlak yang baik.” HR. Abu Dawud dan Ahmad. Beliau Saw. bersabda lagi, “Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya kehormatannya adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.” HR. Ahmad dan Al-Hakim. Dan dalam hadits yang lain Beliau bersabda, “Allah menyayangi orang yang bersikap lapang dada toleran, baik ketika menjual, membeli, atau ketika menagih sesuatu kepada orang lain.” HR. Bukhari. Beliau Saw. berlanjut mengatakan, “Sebaik-baik kalian dalam hal keislaman adalah yang paling baik akhlaknya, dengan syarat juga memiliki pemahaman yang baik tentang ajaran-ajaran agama.” HR. Ahmad. Dan dalam Sabdanya yang lain, “Sebaik-baik anugerah yang diberikan kepada manusia adalah akhlak yang baik, dan seburuk-buruk yang diberikan kepada manusia adalah hati yang buruk pada rupa yang baik.” HR. Usamah ibnu Suraikh. Tiada suatu hal pun yang lebih indah dalam diri seseorang selain dari akhlak yang mulia, dan tiada yang lebih buruk dalam diri seseorang selain dari akhlak yang jahat. Berakhlak mulia merupakan salah satu penyebab utama agar seseorang bisa terlepas dari api neraka, dan menjadi penyebab utama dalam memperoleh derajat yang tinggi di dalam surga. Dan itu adalah tujuan terakhir setiap muslim setelah tujuan mendapatkan keridhaan Allah. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Akhlak yang mulia itu ada sepuluh macam, terkadang semuanya terdapat dalam diri seseorang tetapi tidak terdapat dalam diri anaknya; terkadang semuanya terdapat dalam diri seorang anak, tetapi tidak terdapat dalam diri ayahnya; terkadang semuanya terdapat dalam diri seorang hamba, tetapi tidak terdapat dalam diri tuannya. Allah membagikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya hidup behagia. Yaitu Jujur dalam berbicara, pemberani dalam medan perang, selalu memberi orang yang meminta, selalu membalas perbuatan baik, memelihara amanat, bersilatuhami; memelihara hak-hak tetangga dan teman, menghormati tamu; dan yang paling utama di antara kesemuanya adalah malu.” melalui Aisyah Nabi Muhammad Saw. menjamin orang yang berakhlak baik akan menempati surga yang paling tinggi, Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Aku adalah pemimpin di sebuah rumah di dalam surga nanti yang diperuntukan bagi orang yang meninggalkan perdebatan, walaupun orang tersebut berada di pihak yang benar. Aku pemimpin di dalam rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta, walaupun hanya untuk bermain-main. Aku pemimpin di sebuah rumah di surga yang tertinggi bagi orang yang memiliki akhlak yang baik.” Nabi Saw. pernah ditanya mengenai perihal mengapa banyak manusia masuk ke dalam surga. Sabda Rasulullah Saw, “Bertaqwa kepada Allah dan berakhlak baik”. HR. Attirmidzi dan Ibnu Hiban. Dalam sebuah hadist yang lain Beliau bersabda, “Sesungguhnya api neraka akan terhalang untuk membakar dari setiap orang yang beribadah, pemaaf dan pemurah.” HR. Ahmad. Akhlak yang mulia menimbulkan kecintaan manusia, dan memperkuat kasih sayang. Inilah rahasia mengapa orang-orang yang berakhlak mulia selalu dicintai dan dikelilingi manusia. Khalifahur Rasidun ke empat Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa Akhlak yang baik melahirkan kecintaan dan memperkuat kasih sayang, barang siapa yang baik akhlaknya maka banyak yang mencintainya, dan manusia senang kepadanya. Barangsiapa yang buruk akhlaknya maka teman dan sahabatnya akan membiarkannya menjadi miskin”. Wallahu A’lam bish Shawab. Diningrat * Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung. * Anggota PB Al Washliyah Jakarta. * Mantan Ketua PW Al Washliyah Jawa Barat. MADINAH - Masa kepulangan jamaah haji Indonesia hampir mendekati akhir. Hingga kemarin lebih dari 80% atau sebanyak jamaah atau telah kembali ke Indonesia. Mereka diharapkan menjadi insan kamil yang mampu membawa akhlak bangsa jauh lebih baik dalam etika, ibadah, dan ini disampaikan Kepala Daerah Kerja Daker Bandara Jeddah-Madinah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji PPIH 2019, Arsyad Hidayat, Selasa 10/9/2019. Menurutnya, ibadah haji bukan sekedar runtutan ibadah di Tanah Suci tapi juga menghasilkan konsekuensi setelahnya yakni menjadi haji mabrur yang dicirikan dengan memberikan makan atau bersedekah dan menyebarkan perdamaian atau memiliki ucapan-ucapan yang baik."Saya kira ini tujuan dari haji, menjadi insan kamil, manusia yang sempurna etikanya, kedekatan dirinya kepada Allah SWT, kemudian hubungan horizontal dengan sesama manusia, baik seagama atau pun umat manusia secara umum," kata jamaah haji yang terus meningkat setiap tahun, kata Arsyad, semestinya berbanding lurus dengan akhlak atau budi pekerti bangsa. Jamaah mampu mengimplementasikan kemabruran hajinya di lingkungannya masing-masing sehingga tercipta suatu masyarakat yang beretika, relijius, dan memiliki kepedulian sosial tinggi."Secara pengertian mabrur memang hanya diperoleh oleh mereka yang melaksanakan ibadah haji. Namun dua sifat kemabruran memberikan makan/sodaqah dan menyebarkan perdamaian/ucapan baik, bisa ditularkan kepada tetangga, kerabat, saudara, dan orang-orang di sekitarnya," ujar mengingatkan hal tersebut, Daker Bandara tahun ini mengeluarkan surat edaran menjaga kemabruran haji kepada jamaah ketika akan pulang ke Tanah Air. Surat edaran itu diberikan kepada Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia TPIHI saat berada di bandara Arab Saudi untuk disampaikan kepada seluruh anggota kelompok terbang kloter.Surat itu berisi tiga aspek. Pertama aspek pribadi, seperti salat tepat waktu, melaksanakan ibadah sunah, berhias diri dengan sifat-sifat terpuji, cepat bertaubat apabila bersalah. Kedua aspek ubudiyah, misalnya meningkatkan kualitas salat fardu, melaksanakan salat dan puasa sunnah, membiasakan tilawah Alquran, memberikan zakat, infaq, dan sadaqah. Ketiga aspek sosial, yakni membiasakan diri salat berjamaah, menyantuni yatim piatu, menjenguk orang sakit dan meninggal, serta mendamaikan orang berselisih."Saya kira kita kan manusia sering lupa, selalu harus terus diingatkan. Mudah-mudahan dengan mengingatkan itu, ketika di pesawat atau ketika tiba di embarkasi, jamaah ingat ada edaran tentang mabrur haji, mudah-mudah itu juga bisa dipraktikkan dalam kehidupan jamaah haji pada periode setelahnya," ujar Arsyad.pur Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, para pengikutnya, segenap sahabatnya dan orang-orang yang setia kepadanya. Amma ba’ kemuliaan akhlak itu terwujud dengan memberikan apa yang dipunyai kepada orang lain, menahan diri sehingga tidak menyakiti, dan menghadapi gangguan atau tekanan dengan penuh kesabaran. Hal itu akan bisa digapai dengan membersihkan jiwa dari sifat-sifat rendah lagi tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Simpul kemuliaan akhlak itu adalah kamu tetap menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberikan kebaikan kepada orang yang tidak mau berbuat baik kepadamu, dan memaafkan kesalahan orang lain yang menzalimi yang mulia memiliki berbagai keutamaan. Ia merupakan bentuk pelaksanaan perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Dengan kemuliaan akhlak seorang akan memperoleh ketinggian derajat. Dengan sebab kemuliaan akhlak pula berbagai problema akan menjadi mudah, aib-aib akan tertutupi dan hati manusia akan tunduk dan menyukai sang pemilik akhlak yang mulia ini. Dengan akhlak yang mulia juga, seorang akan terbebas dari pengaruh negatif tindakan jelek orang lain. Dia pandai menunaikan kewajibannya dan melengkapinya dengan hal-hal yang disunnahkan. Sebagaimana ia akan terjauhkan dari akibat buruk sikap tergesa-gesa dan serampangan. Dengan akhlak yang mulia pikiran akan tenteram dan kehidupan terasa diragukan bahwa mengubah kebiasaan memang perkara yang sangat berat dilakukan orang. Meskipun demikian, hal itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin dan mustahil dilakukan. Terdapat banyak jalan dan sarana yang bisa ditempuh oleh manusia untuk bisa menggapai kemuliaan akhlak. Sebagian di antara jalan-jalan tersebut adalah1. Memiliki Aqidah yang Selamat2. Senantiasa Berdoa Memohon Akhlak Mulia3. Bersungguh-Sungguh/Mujahadah Dalam Memperbaiki Diri4. Introspeksi/Muhasabah5. Merenungkan Dampak Positif Akhlak yang Mulia6. Memikirkan Dampak Buruk Akhlak yang Jelek7. Tidak Putus Asa untuk Memperbaiki Diri8. Memiliki Cita-Cita yang Tinggi9. Bersabar10. Menjaga Kehormatan/Iffah11. Keberanian12. Bersikap Adil13. Bersikap Ramah dan Menjauhi Bermuka Masam14. Mudah Memaafkan15. Tidak Mudah Melampiaskan Amarah16. Meninggalkan Orang-Orang Bodoh17. Tidak Suka Mencela18. Mengabaikan Orang yang Berbuat Jelek Kepada Kita19. Melupakan Kelakuan Orang Lain yang Menyakiti Dirinya20. Mudah Memberikan Maaf dan Membalas Kejelekan Dengan Kebaikan1. Memiliki Aqidah yang SelamatAqidah adalah urusan yang sangat agung dan mulia. Perilaku merupakan hasil dari pikiran dan keyakinan di dalam jiwa. Penyimpangan perilaku biasanya muncul akibat penyimpangan aqidah. Aqidah itulah iman. Sementara orang yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya. Apabila aqidah seseorang baik maka akan baik pula akhlaknya. Sehingga aqidah yang benar akan menuntun pemiliknya untuk bisa memiliki akhlak yang mulia seperti berlaku jujur, dermawan, lemah lembut, berani, dan lain sebagainya. Sebagaimana kemuliaan akhlak juga akan menghalangi dirinya dari melakukan perilaku-perilaku yang jelek seperti; berdusta, bakhil pelit, bertindak bodoh, serampangan, dan lain Senantiasa Berdoa Memohon Akhlak MuliaDoa merupakan pintu kebaikan yang sangat agung. Apabila pintu ini telah dibukakan untuk seorang hamba maka berbagai kebaikan pasti akan dia dapatkan dan keberkahan akan tercurah kepadanya. Barangsiapa yang ingin memiliki kemuliaan akhlak dan terbebas dari akhlak yang jelek hendaknya dia mengembalikan urusannya kepada Rabbnya. Hendaknya dia menengadahkan telapak tangannya’ dengan penuh ketundukan dan perendahan diri kepada-Nya agar Allah melimpahkan kepadanya akhlak yang mulia dan menyingkirkan akhlak-akhlak yang buruk darinya. Oleh karena itulah Nabi alaihish shalatu was salam adalah orang yang sangat banyak memohon kepada Rabbnya untuk mengaruniakan kepada beliau kemuliaan akhlak. Beliau biasa memanjatkan permohonan di dalam doa istiftah, “Ya Allah tunjukkanlah aku kepada akhlak mulia. Tidak ada yang bisa menunjukkan kepada kemuliaan itu kecuali Engkau. Dan singkirkanlah akhlak yang jelek dari diriku. Tidak ada yang bisa menyingkirkan kejelekan akhlak itu kecuali Engkau.” HR. Muslim 771. Salah satu doa yang beliau ucapkan juga, “Ya Allah, jauhkanlah dari diriku kemungkaran dalam akhlak, hawa nafsu, amal, dan penyakit.” HR. Al Hakim [1/532] dan disahihkan olehnya serta disepakati Adz Dzahabi. Beliau juga berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap lemah, kemalasan, sifat pengecut, pikun, sifat pelit. Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian.” HR. Bukhari [7/159] dan Muslim [2706].3. Bersungguh-Sungguh/Mujahadah Dalam Memperbaiki DiriKesungguh-sungguhan akan banyak berguna di dalam upaya untuk mendapatkan hal ini. Sebab kemuliaan akhlak tergolong hidayah yang akan diperoleh oleh seseorang dengan jalan bersungguh-sungguh dalam mendapatkannya. Allah azza wa jalla berfirman yang artinya, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami maka akan Kami mudahkan untuknya jalan-jalan menuju keridhaan Kami. Dan sesungguhnya Allah pasti bersama orang-orang yang berbuat baik.” QS. Al Ankabut 69. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsunya untuk bisa berhias diri dengan sifat-sifat keutamaan, serta menundukkannya untuk menyingkirkan akhlak-akhlak yang tercela niscaya dia akan mendapatkan banyak kebaikan dan akan tersingkir darinya kejelekan-kejelekan. Akhlak ada yang didapatkan secara bawaan dan ada pula yang dimiliki setelah melatih diri dan membiasakannya. Mujahadah tidaklah cukup sekali atau dua kali, namun ia harus dilakukan sepanjang hayat hingga menjelang kematiannya. Allah tabaraka wa ta’ala berfirman yang artinya, “Sembahlah Rabbmu hingga datang kematian kepadamu.” QS. Al Hijr 99.4. Introspeksi/MuhasabahYakni dengan cara mengoreksi diri ketika melakukan akhlak yang tercela dan melatih diri agar tidak terjerumus kembali dalam perilaku akhlak yang tercela itu. Namun hendaknya tidak terlalu berlebihan dalam mengintrospeksi karena hal itu akan menimbulkan patah Merenungkan Dampak Positif Akhlak yang MuliaSesungguhnya memikirkan dampak positif dan akibat baik dari segala sesuatu akan memunculkan motivasi yang sangat kuat untuk melakukan dan mewujudkannya. Maka setiap kali hawa nafsu mulai terasa sulit untuk ditundukkan hendaknya ia mengingat-ingat dampak positif tersebut. Hendaknya dia mengingat betapa indah buah dari kesabaran, niscaya pada saat itu nafsunya akan kembali tunduk dan kembali ke jalur ketaatan dengan lapang. Sebab apabila seseorang menginginkan kemuliaan akhlak dan dia menyadari bahwa hal itu merupakan sesuatu yang paling berharga dan perbendaharaan yang paling mahal bagi jiwa manusia niscaya akan terasa mudah baginya untuk Memikirkan Dampak Buruk Akhlak yang JelekYaitu dengan memperhatikan baik-baik dampak negatif yang timbul akibat akhlak yang jelek berupa penyesalan yang terus menerus, kesedihan yang berkepanjangan, rasa tidak senang di hati orang lain kepadanya. Dengan demikian seorang akan terdorong untuk mengurangi perilakunya yang buruk dan terpacu untuk memiliki akhlak yang Tidak Putus Asa untuk Memperbaiki DiriSebagian orang yang berakhlak jelek mengira bahwa perilakunya sudah tidak mungkin untuk diperbaiki dan mustahil untuk diubah. Sebagian orang ketika berusaha sekali atau beberapa kali untuk memperbaiki dirinya namun menjumpai kegagalan maka dia pun berputus asa. Hingga akhirnya dia tidak mau lagi memperbaiki dirinya. Sikap semacam ini benar-benar tidak layak dimiliki seorang muslim. Dia tidak boleh barang sedikit pun merasa senang dengan kehinaan yang sedang dialaminya lantas tidak mau lagi menempa diri karena menurutnya perubahan keadaan merupakan sesuatu yang mustahil terjadi pada dirinya. Namun semestinya dia memperkuat tekad dan terus berupaya untuk menyempurnakan diri, dan bersungguh-sungguh dalam mengikis aib-aib dirinya. Betapa banyak orang yang berhasil berubah keadaan dirinya, jiwanya menjadi mulia, dan aib-aibnya lambat laun menghilang akibat keseriusannya dalam menempa diri dan kesungguhannya dalam menaklukkan tabiat Memiliki Cita-Cita yang TinggiCita-cita tinggi akan melahirkan kesungguhan, memompa semangat untuk maju dan tidak mau tercecer di barisan orang-orang yang rendah dan hina. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang memiliki cita-cita yang tinggi dan jiwanya memiliki kekhusyukan maka dia telah memiliki sumber segala akhlak mulia. Sedangkan orang yang rendah cita-citanya dan hawa nafsunya telah melampaui batas maka itu artinya dia telah bersifat dengan setiap akhlak yang rendah dan tercela.” Jiwa-jiwa yang mulia tidak merasa ridha kecuali terhadap perkara-perkara yang mulia, tinggi, dan baik dampaknya. Sedangkan jiwa-jiwa yang kerdil dan hina menyukai perkara-perkara yang rendah dan kotor sebagaimana halnya seekor lalat yang senang hinggap di barang-barang yang kotor. Jiwa-jiwa yang mulia tidak akan merasa ridha terhadap kezaliman, perbuatan keji, mencuri, demikian pula tindakan pengkhianatan, sebab jiwanya lebih agung dan lebih mulia daripada harus melakukan itu semua. Sedangkan jiwa-jiwa yang hina justru memiliki karakter yang bertolak belakang dengan sifat-sifat yang mulia BersabarSabar merupakan fondasi bangunan kemuliaan akhlak. Kesabaran akan melahirkan ketabahan, menahan amarah, tidak menyakiti, kelemahlembutan dan tidak tergesa-gesa, dan tidak suka bersikap Menjaga Kehormatan/IffahSifat ini akan membawa pelakunya untuk senantiasa menjauhi perkara-perkara yang rendah dan buruk, baik yang berupa ucapan ataupun perbuatan. Dia akan memiliki rasa malu yang itu merupakan sumber segala kebaikan. Sikap ini akan mencegah dari melakukan perbuatan keji, bakhil, dusta, ghibah maupun namimah/adu KeberanianHal ini akan membawa pelakunya untuk memiliki jiwa yang tangguh dan mulia. Selain itu keberanian akan menuntun untuk senantiasa mengutamakan akhlak mulia, berusaha untuk mengerahkan kebaikan yang bisa dilakukannya dalam rangka memberikan manfaat kepada orang lain. Keberanian juga akan menggembleng jiwa untuk rela meninggalkan sesuatu yang disukai dan menyingkirkannya. Keberanian akan menuntun kepada sifat suka menahan amarah dan berlaku Bersikap AdilSikap adil akan menuntun kepada ketepatan perilaku. Tidak melampaui batas dan tidak meremehkan. Adil akan melahirkan kedermawanan yang berada di antara sikap boros dan pelit. Adil akan melahirkan sikap tawadhu’ rendah hati yang berada di antara sikap rendah diri dan kesombongan. Adil juga akan melahirkan sikap berani yang berada di antara sikap pengecut dan serampangan. Adil pun akan melahirkan kelemahlembutan yang berada di antara sikap suka marah dengan sifat hina dan menjatuhkan harga Bersikap Ramah dan Menjauhi Bermuka MasamNabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Senyummu kepada saudaramu sesama muslim adalah sedekah untukmu.” HR. Tirmidzi, disahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah 272. Beliau juga bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan meskipun ringan. Walaupun hanya dengan berwajah yang ramah ketika bertemu dengan saudaramu.” HR. Muslim. Senyuman akan mencairkan suasana dan meringankan beban pikiran. Orang yang murah senyum akan ringan dalam menunaikan tanggung jawabnya. Kesulitan baginya merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan tenang dan pikiran positif. Berbeda dengan orang yang suka bermuka masam. Dia akan menghadapi segala sesuatu dengan penuh kerepotan dan pandangan yang sempit. Apabila menemui kesulitan maka nyalinya mengecil dan semangatnya menurun. Akhirnya dia mencela kondisi yang ada dan merasa tidak puas dengan ketentuan takdir Allah lantas dia pun melarikan diri dari Mudah MemaafkanMudah memaafkan dan mengabaikan ketidaksantunan orang lain merupakan akhlak orang-orang besar dan mulia. Sikap inilah yang akan melestarikan rasa cinta dan kasih sayang dalam pergaulan. Sikap inilah yang akan bisa memadamkan api permusuhan dan kebencian. Inilah bukti ketinggian budi pekerti seseorang dan sikap yang akan senantiasa mengangkat Tidak Mudah Melampiaskan AmarahHilm atau tidak suka marah merupakan akhlak yang sangat mulia. Akhlak yang harus dimiliki oleh setiap orang yang memiliki akal pikiran. Dengan akhlak inilah kehormatan diri akan terpelihara, badan akan terjaga dari gangguan orang lain, dan sanjungan akan mengalir atas kemuliaan perilakunya. Hakikat dari hilm adalah kemampuan mengendalikan diri ketika keinginan untuk melampiaskan kemarahan bergejolak. Bukanlah artinya seorang yang memiliki sifat ini sama sekali tidak pernah marah. Namun tatkala perkara yang memicu kemarahannya terjadi maka ia bisa menguasai dirinya dan meredakan emosinya dengan sikap yang Meninggalkan Orang-Orang BodohBerpaling dari tindakan orang-orang jahil akan menyelamatkan harga diri dan menjaga kehormatan. Jiwanya akan menjadi tenang dan telinganya akan terbebas dari mendengarkan hal-hal yang menyakitkannya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Berikanlah maaf, perintahkan yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” QS. Al A’raaf 199. Orang Arab mengatakan, “Menjauhi kejelekan adalah bagian dari upaya untuk mencari kebaikan.”17. Tidak Suka MencelaHal ini menunjukkan kemuliaan diri seseorang dan ketinggian cita-citanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang bijak, “Kemuliaan diri yaitu ketika kamu dapat menanggung hal-hal yang tidak menyenangkanmu sebagaimana kamu sanggup menghadapi hal-hal yang memuliakanmu.” Diriwayatkan bahwa suatu ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang pergi berangkat ke masjid pada waktu menjelang subuh waktu sahur, suasana masih gelap. Ketika itu dia berangkat dengan disertai seorang pengawal. Ketika melewati suatu jalan mereka berdua berpapasan dengan seorang lelaki yang tidur di tengah jalan, sehingga Umar pun terpeleset karena tersandung tubuhnya. Maka lelaki itu pun berkata kepada Umar, “Kamu ini orang gila ya?”. Umar pun menjawab, “Bukan.”Maka sang pengawal pun merasa geram terhadap sang lelaki. Lantas Umar berkata kepadanya, “Ada apa memangnya! Dia hanya bertanya kepadaku, Apakah kamu gila?’ lalu kujawab bahwa aku bukan orang gila.”18. Mengabaikan Orang yang Berbuat Jelek Kepada KitaOrang yang suka menyakiti tidak perlu ditanggapi. Ini merupakan bukti kemuliaan pribadi dan ketinggian harga diri. Suatu ketika ada orang yang mencaci maki Al Ahnaf bin Qais berulang-ulang namun sama sekali tidak digubris olehnya. Maka si pencela mengatakan, “Demi Allah, tidak ada yang menghalanginya untuk membalas celaanku selain kehinaan diriku dalam pandangannya.”19. Melupakan Kelakuan Orang Lain yang Menyakiti DirinyaYaitu dengan cara anda melupakan orang lain yang pernah melakukan perbuatan buruk kepada anda. Agar hati anda menjadi bersih dan tidak gelisah karena ulahnya. Orang yang terus mengingat-ingat perbuatan jelek saudaranya kepada dirinya maka kecintaan dirinya kepada saudaranya tidak akan bisa bersih dari kepentingan dunia. Orang yang senantiasa mengenang kejelekan orang lain kepada dirinya niscaya tidak akan bisa merasakan kenikmatan hidup bersama Mudah Memberikan Maaf dan Membalas Kejelekan Dengan KebaikanHal ini merupakan sebab untuk meraih kedudukan yang tinggi dan derajat yang mulia. Dengan sikap inilah akan didapatkan ketenangan hati, manisnya iman, dan kemuliaan diri. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah akan menambahkan kepada seorang hamba dengan sifat pemaaf yang dimilikinya kecuali kemuliaan.” HR. Muslim. Ibnul Qayyim menceritakan, “Tidaklah aku melihat orang yang lebih bisa memadukan sifat-sifat ini -berakhlak mulia, pemaaf, dan suka berbuat baik kepada orang lain- daripada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah menyucikan ruhnya- ketika itu sebagian para sahabatnya yang senior mengatakan, Aku sangat ingin bersikap kepada para sahabatku sebagaimana beliau bersikap kepada musuh-musuhnya.’ Aku tidak pernah melihat beliau mendoakan kejelekan kepada salah seorang di antara musuhnya itu. Bahkan beliau biasa mendoakan kebaikan bagi mereka.” [Diangkat dari Al Asbab Al Mufidah li Iktisab Al Akhlaq Al Hamidah karya Muhammad bin Ibrahim Al Hamd]Simak pembahasan selanjutnya Kiat Menggapai Akhlak Mulia Bag. 2***Penulis Abu Mushlih Ari Wahyudi Artikel

ucapan yang baik akan membawa kepada akhlak